Setelah sebelas tahun vakum, Pasar Seni ITB 2025 akhirnya kembali
digelar dengan semangat besar. Banyak yang menantikan kembalinya festival
legendaris ini yang merupakan sebuah
ajang yang dikenal sebagai perayaan kreativitas, kebebasan, dan seni rakyat
yang hidup di tengah kampus Institut Teknologi Bandung. Namun, ketika harapan
begitu tinggi, kenyataan di lapangan tak selalu seindah rencana.
Sejak hari pertama, suasana memang ramai, ribuan pengunjung datang,
antre di pintu masuk, dan memenuhi area kampus yang disulap jadi ruang pamer
raksasa. Namun, di balik euforia itu, beberapa pengunjung merasa bahwa Pasar
Seni kali ini tidak semegah atau seorganik seperti dulu. Banyak yang menilai
konsepnya agak ‘berjarak’ dari semangat awal — terlalu akademis, terlalu
formal, bahkan terkesan kurang merangkul keberagaman ekspresi seni rakyat,
seperti pada era sebelumnya.
Beberapa stan menampilkan karya yang menarik dan penuh makna,
tetapi sebagian lain dinilai terlalu konseptual hingga sulit dipahami publik
umum. Padahal, salah satu daya tarik utama Pasar Seni ITB dulu adalah
kemampuannya menjembatani dunia kampus dan masyarakat. Kini, sebagian
pengunjung merasa acara ini lebih terasa, seperti pameran seni kampus ketimbang
festival rakyat yang terbuka dan inklusif.
Masalah teknis juga sempat jadi sorotan. Cuaca tak bersahabat,
antrean panjang, serta akses parkir dan fasilitas umum yang terbatas membuat
sebagian pengunjung kelelahan. Di media sosial, muncul komentar-komentar yang
menyoroti pengelolaan acara yang dianggap kurang matang. Meskipun, kritik itu
disampaikan dengan nada beragam, sebagian besar tetap berangkat dari rasa
sayang terhadap tradisi Pasar Seni yang punya sejarah panjang dan berharga.
Namun, di balik segala catatan itu, banyak juga yang tetap
mengapresiasi keberanian panitia dan civitas ITB untuk menghidupkan kembali
festival ini. Kegagalan kali ini bukan akhir, melainkan proses belajar. Setiap
karya dan setiap acara, butuh waktu untuk menemukan bentuk terbaiknya.
Pasar Seni ITB 2025 mungkin belum sempurna, tetapi kehadirannya
telah membangunkan kembali semangat lama bahwa seni dengan segala dinamikanya,
tetap menjadi ruang bagi manusia untuk berekspresi, berefleksi, dan terus
berproses. Karena pada akhirnya, bahkan dari ‘kegagalan’, selalu ada keindahan
yang bisa kita pelajari.
(Sumber gambar: detik.com)