Antara Ekspektasi dan Kenyataan Pasar Seni Institut Teknologi Bandung 2025

Jumat, 07 November 2025 21:28:37
Antara Ekspektasi dan Kenyataan Pasar Seni Institut Teknologi Bandung 2025

Setelah sebelas tahun vakum, Pasar Seni ITB 2025 akhirnya kembali digelar dengan semangat besar. Banyak yang menantikan kembalinya festival legendaris ini yang merupakan  sebuah ajang yang dikenal sebagai perayaan kreativitas, kebebasan, dan seni rakyat yang hidup di tengah kampus Institut Teknologi Bandung. Namun, ketika harapan begitu tinggi, kenyataan di lapangan tak selalu seindah rencana.

Sejak hari pertama, suasana memang ramai, ribuan pengunjung datang, antre di pintu masuk, dan memenuhi area kampus yang disulap jadi ruang pamer raksasa. Namun, di balik euforia itu, beberapa pengunjung merasa bahwa Pasar Seni kali ini tidak semegah atau seorganik seperti dulu. Banyak yang menilai konsepnya agak ‘berjarak’ dari semangat awal — terlalu akademis, terlalu formal, bahkan terkesan kurang merangkul keberagaman ekspresi seni rakyat, seperti pada era sebelumnya.

Beberapa stan menampilkan karya yang menarik dan penuh makna, tetapi sebagian lain dinilai terlalu konseptual hingga sulit dipahami publik umum. Padahal, salah satu daya tarik utama Pasar Seni ITB dulu adalah kemampuannya menjembatani dunia kampus dan masyarakat. Kini, sebagian pengunjung merasa acara ini lebih terasa, seperti pameran seni kampus ketimbang festival rakyat yang terbuka dan inklusif.

Masalah teknis juga sempat jadi sorotan. Cuaca tak bersahabat, antrean panjang, serta akses parkir dan fasilitas umum yang terbatas membuat sebagian pengunjung kelelahan. Di media sosial, muncul komentar-komentar yang menyoroti pengelolaan acara yang dianggap kurang matang. Meskipun, kritik itu disampaikan dengan nada beragam, sebagian besar tetap berangkat dari rasa sayang terhadap tradisi Pasar Seni yang punya sejarah panjang dan berharga.

Namun, di balik segala catatan itu, banyak juga yang tetap mengapresiasi keberanian panitia dan civitas ITB untuk menghidupkan kembali festival ini. Kegagalan kali ini bukan akhir, melainkan proses belajar. Setiap karya dan setiap acara, butuh waktu untuk menemukan bentuk terbaiknya.

Pasar Seni ITB 2025 mungkin belum sempurna, tetapi kehadirannya telah membangunkan kembali semangat lama bahwa seni dengan segala dinamikanya, tetap menjadi ruang bagi manusia untuk berekspresi, berefleksi, dan terus berproses. Karena pada akhirnya, bahkan dari ‘kegagalan’, selalu ada keindahan yang bisa kita pelajari.

(Sumber gambar: detik.com)

Author
Written by
Sefiyan Eza Nur Hidayat

Penulis di platform Rasanya Lelang Karya yang berfokus pada seni dan budaya.

Editor
Edited by
Setiya Adi Buono

Editor konten di platform Rasanya Lelang Karya.