Bernafas dalam Kegelapan: Ketika Lukisan Mengajak Kita Mendengar yang Tak Terdengar

Selasa, 24 Februari 2026 14:25:31

Ada karya seni yang tidak datang untuk memanjakan mata atau membuat kita langsung berkata, “indah sekali.” Ia justru hadir dengan cara yang berbeda, membuat kita berhenti di depan kanvasnya sedikit lebih lama, mengernyitkan dahi, lalu diam. Di dalam diam itu, perlahan muncul pertanyaan-pertanyaan kecil di kepala. Tentang makna, tentang rasa, tentang hal-hal yang mungkin selama ini kita lewatkan begitu saja. Karya Bernafas dalam Kegelapan adalah salah satunya. Lukisan akrilik di atas kanvas berukuran 40 x 60 cm ini lahir pada tahun 2023 dari tangan Lukmono Adi, seorang seniman asal Kendal yang juga berprofesi sebagai guru seni budaya di SMP Negeri 28 Semarang.

Melalui gaya surealis kubistis, Lukmono menyampaikan gagasan tentang pentingnya komunikasi yang intens antara pemegang kekuasaan dan rakyat. Kegelapan dalam judul karya ini bukan sekadar tentang cahaya yang hilang, melainkan simbol dari kondisi ketika suara tidak tersampaikan, harapan teredam, dan kesejahteraan terasa jauh. Namun, kata “bernafas” memberi isyarat bahwa di tengah gelap sekalipun, masih ada kehidupan, masih ada kemungkinan untuk berubah.

Bentuk-bentuk visual yang terfragmentasi dan tidak realistis mengajak penikmat karya untuk menafsirkan makna secara personal. Tidak ada satu jawaban benar. Setiap sudut, warna, dan garis terasa seperti potongan dialog yang belum selesai. Di sinilah kekuatan karya ini: ia tidak menggurui, tetapi mengajak berdialog secara diam-diam.

Sebagai pendidik sekaligus seniman, Lukmono membawa pengalaman sosial dan kepekaannya ke dalam kanvas. Karyanya menjadi jembatan antara dunia seni dan realitas sehari-hari, antara estetika dan pesan kemanusiaan.

Bernafas dalam Kegelapan cocok bagi mereka yang mencari karya dengan makna mendalam, bukan sekadar hiasan visual. Menghadirkannya di ruang Anda bukan hanya soal memiliki lukisan, tetapi juga tentang menyimpan sebuah pengingat: bahwa kesejahteraan dan keadilan lahir dari komunikasi yang mau saling mendengar. Tanpa terasa, karya ini bisa menjadi teman refleksi yang terus berbicara, bahkan saat ruangan sedang sunyi.

(Sumber gambar: rasanyalelangkarya.com)
Author
Written by
Sefiyan Eza Nur Hidayat

Penulis di platform Rasanya Lelang Karya yang berfokus pada seni dan budaya.

Editor
Edited by
Desyfa Cahya Aina

Editor konten di platform Rasanya Lelang Karya.