Yogyakarta
kembali menegaskan dirinya sebagai kota kreatif lewat perhelatan CRAFT Animfest
2025, sebuah festival animasi internasional yang akan digelar pada 28 Oktober
hingga 1 November 2025 di Studio Kalahan dan Griya Monica, Gamping – Sleman.
Ajang ini menghadirkan perpaduan menarik antara seni tradisional animasi dan
teknologi digital modern, menjadikannya ruang pertemuan bagi para kreator,
pelajar, dan pecinta animasi dari berbagai belahan dunia.
CRAFT Animfest
2025 menghadirkan lebih dari 31 negara peserta yang menampilkan karya film
pendek animasi dengan gaya dan teknik beragam — mulai dari stop-motion, hand-drawn
animation, hingga animasi digital berbasis AI. Yang membuat festival ini
unik adalah fokusnya pada craftsmanship
atau keterampilan tangan dalam dunia animasi. Di tengah dominasi teknologi
komputer, CRAFT mengingatkan bahwa animasi sejatinya lahir dari ketekunan,
imajinasi, dan keindahan proses manual yang penuh sentuhan manusia.
Begitu memasuki
area festival, pengunjung akan disuguhi pengalaman visual yang imersif. Ruang
pamer di Studio Kalahan menampilkan instalasi animasi eksperimental, lukisan
karakter, serta dokumentasi proses produksi film animasi dari berbagai negara.
Sementara di Griya Monica, suasana lebih interaktif: pengunjung bisa mengikuti workshop membuat animasi sederhana,
belajar stop-motion, atau mencoba
teknologi motion capture yang
digunakan dalam industri film profesional.
Selain pemutaran
film, CRAFT Animfest 2025 juga menghadirkan sesi diskusi dan kelas inspiratif
dengan pembicara dari studio-studio animasi ternama di Asia dan Eropa. Topiknya
beragam, mulai dari “Animasi dan Budaya Lokal”, “Teknologi AI dalam Film”, hingga
“Masa Depan Industri Kreatif di Asia Tenggara”. Semua sesi dirancang agar
terbuka untuk pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum yang ingin memahami dunia
animasi lebih dalam.
Lebih jauh,
penyelenggaraan CRAFT Animfest di Yogyakarta mempertegas posisi kota ini
sebagai pusat ekosistem kreatif Indonesia. Keberadaan festival ini menunjukkan
bahwa seni animasi bukan hanya milik industri besar, tetapi juga ruang ekspresi
lintas budaya yang membumi dan dekat dengan nilai-nilai lokal.
(Sumber gambar: @craftanimfest)