Semarang, Rasanya Lelang Karya — Di tengah dinamika kota yang padat aktivitas, Danti memilih menumbuhkan ruang yang berbeda. Melalui Pasar Wangi, ia merawat kecintaannya pada seni dengan cara sederhana namun konsisten: menghadirkan wadah bulanan bagi pelaku UMKM kreatif untuk bertemu pasar dan komunitasnya.
Sebagai founder Pasar Wangi, Danti melihat banyak pelaku UMKM seni memiliki kualitas karya yang baik, tetapi belum memiliki akses ruang yang memadai untuk berkembang. Dari kegelisahan itu, lahirlah Pasar Wangi sebagai ruang perjumpaan antara kreator, pembeli, dan sesama pelaku industri kreatif.
“Pasar Wangi lahir dari keinginan untuk menghadirkan wadah bersama,” ujarnya.
Bagi Danti, seni bukan sekadar komoditas yang diperjualbelikan. Di dalamnya ada gagasan, proses, dan cerita yang layak diapresiasi. Ketika para pelaku UMKM seni dikumpulkan dalam satu agenda rutin, tercipta lebih dari sekadar transaksi. Ada percakapan, kolaborasi, hingga dukungan antarpelaku kreatif.
Setiap bulan, Pasar Wangi menghadirkan beragam produk seni dan kriya, mulai dari ilustrasi, kerajinan tangan, fesyen kreatif, hingga produk berbasis desain. Para pelaku UMKM tidak hanya memamerkan karya, tetapi juga berbagi proses kreatif yang melatarbelakanginya.
Danti menyadari bahwa membangun ekosistem kreatif bukan proses instan. Konsistensi menjadi kunci utama. Dengan agenda rutin, ia ingin menciptakan ritme yang dinantikan, baik oleh pelaku UMKM maupun pengunjung.
Perlahan, Pasar Wangi tumbuh menjadi ruang apresiasi yang lebih luas. Pengunjung datang bukan hanya untuk membeli, tetapi juga untuk mengenal langsung sosok di balik karya. Interaksi tersebut memberi nilai tambah yang tidak selalu bisa diukur secara materi.
Bagi Danti, langkah kecil yang dilakukan setiap bulan merupakan bentuk nyata komitmennya terhadap seni lokal. Ia meyakini bahwa ketika karya-karya kreatif diberi ruang yang layak dan berkelanjutan, ekosistem industri kreatif akan tumbuh lebih kuat dan berdampak luas.