
Kerinduan pada
sebuah kota sering kali tidak cukup diungkapkan dengan kata-kata. Perasaan
itulah yang coba disampaikan Atiqah Zhafira Prabanindya Harjono melalui karya
digital art berjudul Halo Semarang. Karya ini saat ini dilelang melalui
platform rasanyalelangkarya.com, sebuah ruang apresiasi sekaligus transaksi
karya seni.
Halo Semarang menampilkan ilustrasi
seorang pelukis yang sedang melukis Tugu Muda. Namun, pikiran sang pelukis
tidak berhenti pada satu ikon kota. Imajinasi mengalir ke berbagai simbol khas
Semarang, mulai dari kemegahan Gereja Blenduk, keunikan Warak Ngendog, hingga
kehangatan rasa lumpia yang lekat dengan ingatan banyak orang. Karya ini seolah
ingin mengatakan bahwa sebuah kota bukan hanya tentang bangunan, tetapi juga
tentang rasa, memori, dan pengalaman personal.
Menariknya, karya
ini diciptakan oleh Atiqah, atau yang akrab disapa Fira, seorang siswi kelas
VIII SMP Negeri 26 Semarang. Melalui media digital art, Fira menjadikan seni
sebagai ruang eksplorasi visual sekaligus cara mengekspresikan kedekatannya
dengan kota tempat ia tumbuh. Dengan ukuran 35 x 45 cm dan dibuat pada tahun
2026, karya ini menunjukkan bahwa usia muda bukan penghalang untuk menghadirkan
karya yang jujur dan bermakna.
Bagi pecinta
seni, Halo Semarang bukan sekadar ilustrasi, tetapi potret emosi yang
akrab dan hangat. Karya ini tersedia dengan harga Rp599.000 dan dapat dimiliki
melalui rasanyalelangkarya.com. Mengunjungi laman tersebut bukan hanya soal
membeli karya, tetapi juga ikut mendukung semangat berkesenian generasi muda
yang terus tumbuh dan berani mengekspresikan diri. Siapa tahu, sepotong rindu
pada Semarang bisa hadir di ruang pribadi Anda.
(Sumber
gambar: rasanyalelangkarya.com)