Dalam pameran kolektif “Pulang Kampung: Jeda,
Memori, dan Ruang yang Menetap”, karya berjudul “Echoes of Extinction”
menghadirkan refleksi yang lebih kritis tentang perubahan kampung halaman.
Karya ini dibuat oleh Benedictus Danang Putrajati, seorang perupa yang aktif
mengeksplorasi medium digital dalam praktik seninya.
Karya berukuran 33 x 33 cm ini dibuat dalam
bentuk digital art yang kemudian dicetak sebagai digital print. Meskipun tampil
dalam ukuran yang relatif kecil, pesan yang disampaikan dalam karya ini terasa
cukup kuat. “Echoes of Extinction” menggambarkan bagaimana kampung
halaman perlahan berubah karena berbagai kepentingan yang saling bertemu di
dalamnya.
Melalui karya ini, Benedictus mencoba
mengangkat realitas yang sering terjadi di banyak daerah. Kampung yang dulu
terasa dekat dan akrab perlahan bertransformasi karena hadirnya kepentingan
politik, bisnis, dan kekuasaan. Perubahan tersebut tidak selalu terlihat secara
langsung, tetapi meninggalkan jejak yang memengaruhi kehidupan masyarakat di
dalamnya.
Dalam konteks pameran “Pulang Kampung”, karya
ini menjadi pengingat bahwa pulang tidak selalu berarti kembali pada tempat
yang sama seperti dahulu. Kampung halaman bisa berubah, bahkan terkadang
kehilangan sebagian dari identitasnya. Namun justru dari perubahan itulah
muncul pertanyaan penting: apa yang sebenarnya kita cari ketika pulang?