Sebuah karya seni berjudul “How It Go How It Ends”
karya perupa Airlangga menyoroti pembacaan ulang terhadap perjalanan sejarah
Indonesia, khususnya terkait kedatangan bangsa Barat hingga masa penjajahan
yang berulang.
Dalam karyanya, Airlangga mengangkat narasi awal mula
kedatangan bangsa Barat ke Nusantara yang pada mulanya berlangsung melalui
jalur perdagangan. Interaksi yang semula berjalan damai tersebut kemudian
berubah seiring munculnya ketimpangan dan praktik ketidakadilan terhadap
masyarakat lokal.
Perubahan situasi itu, menurut Airlangga, menjadi
titik awal masuknya kekuatan militer Barat yang perlahan mengambil alih
kekuasaan. Kondisi tersebut memicu perlawanan dari berbagai tokoh dan pahlawan
di Indonesia, yang berujung pada konflik bersenjata antara pihak penjajah dan
rakyat.
Namun, karya ini tidak hanya berhenti pada fase
peperangan. Airlangga justru menyoroti bahwa konflik tersebut tidak benar-benar
berakhir secara tuntas. Ia menggambarkan adanya siklus sejarah di mana
penjajahan berlangsung, kemudian mereda melalui perjanjian damai yang bersifat
sementara.
“Sejarah seperti berputar. Ada fase damai, konflik,
lalu damai lagi, tapi tidak pernah benar-benar selesai,” ungkap Airlangga dalam
keterangannya.
Melalui pendekatan tersebut, “How It Go How It Ends”
menghadirkan refleksi bahwa pola relasi kuasa di masa lalu cenderung berulang.
Perdamaian yang tercipta kerap hanya menjadi jeda sebelum konflik serupa
kembali terjadi di masa berikutnya.
Karya ini sekaligus mengajak publik untuk melihat
sejarah tidak sebagai peristiwa yang selesai, melainkan sebagai rangkaian
siklus yang terus berulang dan membentuk kesadaran kolektif bangsa hingga hari
ini.