Pada helatan
CRAFT Animfest 2025 yang diselenggarakan di Studio Kalahan dan Griya Monica,
Gamping, Sleman, Yogyakarta, pengunjung diajak menyelami salah satu karya
unggulan oleh seniman kontemporer Yogyakarta, Samuel Indratma. Karya ini
merupakan bagian dari pameran “Immersive Exhibition” yang menggabungkan mural,
animasi wayang Lostang, dan mapping video menjadi magnet utama dalam konteks
festival yang mengangkat tema “Strength”.
Instalasi itu
berangkat dari pendekatan visual Indratma yang sudah lama dikenal:
menggabungkan tradisi Jawa (wayang, mural) dengan metode kontemporer (animasi,
instalasi multisensori). Di ruang pamer, pengunjung tidak sekadar melihat
lukisan atau objek statis, melainkan masuk ke dalam ruang yang dipenuhi
proyeksi cahaya, bayang-wayang Lostang, dan jalur visual yang membuat tubuh dan
langkah kita ikut tercatat dalam pengalaman. Visual-ruang ini seolah memaksa
kita berhenti sejenak, menyadari bahwa kekuatan ‘strength’ yang dimaksud bukan
hanya daya fisik, tetapi daya narasi, daya ruang, daya gotong-royong dalam
konteks budaya dan individu.
Lebih konkret,
karya Indratma mengajak kita mempertanyakan: bagaimana kita berdiri di hadapan
tantangan zaman digital dan realitas simultan fisik dan maya, serta bagaimana
tradisi bisa menjadi alat komunikasi di era baru. Melalui figur-wayang Lostang
dan mural yang menyebar ke seluruh ruang, ia memunculkan jaringan makna bahwa
kekuatan kolektif, identitas lokal, dan inovasi kreatif saling terjalin.
Penggunaan mapping video menambah dimensi atmosferik: dinding bukan hanya
batas, tetapi kanvas bergerak yang ‘menghidupkan’ cerita.
Bagi khalayak
pelajar dan umum, instalasi ini menjadi contoh nyata bagaimana seni rupa dan
animasi bisa berpadu menjadi media edukasi dan refleksi. Di era di mana konten
digital merajalela, Indratma menegaskan bahwa teknik tradisional masih relevan
dan bahkan bisa diperkuat dengan teknologi. Selain itu, sebagai bagian dari
festival yang memperingati World Animation Day pada 28 Oktober, karya ini
menjadi pengingat bahwa animasi bukan hanya hiburan, tetapi medium kritis.
Penonton bisa
menikmati ruang instalasi mulai 28 Oktober hingga 1 November 2025, dan
pengalaman ini direkomendasikan bagi mereka yang ingin ‘merasakan’ animasi dan
seni rupa secara langsung, bukan hanya lewat layar. Pameran ini menunjukkan
bahwa di balik keindahan visual, ada energi kolektif yang mengajak kita ikut
berdiri, menatap, dan bergerak bersama.
Dengan demikian,
instalasi Samuel Indratma di CRAFT-Animfest 2025 tidak hanya sekadar karya
pameran, melainkan ajakan untuk memperkuat akar budaya, memperluas pandangan
kreatif, dan meresapi kekuatan yang lahir dari pertemuan antara tradisi dan
inovasi.
(Sumber gambar: craftnimfest.org)