Di tengah derasnya
arus digitalisasi dan kehadiran kecerdasan buatan yang semakin canggih, seorang
seniman muda dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Rafael Akbar,
menghadirkan karya yang memikat dan penuh makna berjudul “Lestari.” Lukisan ini
bukan sekadar permainan warna dan bentuk, melainkan perenungan mendalam tentang
eksistensi manusia di era ketika mesin mulai meniru kepekaan kita.
Kata ‘Lestari’ berarti abadi dan melalui karya ini Rafael menyampaikan keyakinan bahwa
ekspresi serta emosi manusia dalam seni akan selalu hidup dan tidak tergantikan
oleh teknologi. Lukisan tersebut menampilkan sosok seorang penari yang tubuhnya
lentur, dinamis, dan sarat makna sebagai representasi spontanitas, serta
kepekaan batin manusia. Gerakan sang penari seolah menari di antara dua dunia:
yang organik dan yang digital.
Uniknya, latar
belakang karya ini dipenuhi dengan teks besar bertuliskan ‘404’, yang merujuk
pada kode kesalahan internet Page Not
Found. Simbol tersebut berfungsi sebagai metafora atas kegagalan sistem
digital untuk menemukan makna sejati dari emosi manusia. Mesin mungkin mampu
menggandakan gambar, meniru gerakan, bahkan menciptakan komposisi warna, tetapi
ia tetap gagal memahami kedalaman rasa yang lahir dari pengalaman hidup
manusia.
Melalui Lestari, Rafael seakan menyampaikan
pesan perlawanan halus terhadap dehumanisasi teknologi, sebuah proses di mana
manusia perlahan kehilangan jati diri karena bergantung pada mesin. Namun,
alih-alih menolak kemajuan digital, karya ini mengajak kita untuk menempatkan
teknologi pada posisi yang proporsional: sebagai alat bantu, bukan pengganti.
Seni tetap menjadi wilayah tempat kepekaan manusia bernafas, tempat di mana
jiwa dan intuisi tidak bisa dikalkulasi oleh algoritma.
Dari sisi visual,
Lestari menggabungkan teknik
realistis dengan sentuhan abstrak yang simbolik. Kombinasi warna hangat dan
kontras yang tajam menciptakan kesan hidup, sekaligus menegaskan bahwa seni
manusia lahir dari kompleksitas emosi yang tidak pernah bisa disederhanakan.
Lebih dari
sekadar karya lukisan, Lestari adalah
refleksi eksistensial tentang makna menjadi manusia di era kecerdasan buatan.
Rafael Akbar berhasil membingkai dilema zaman dengan bahasa visual yang puitis
yang menghadirkan harapan bahwa selama manusia masih mampu merasakan,
berimajinasi, dan mencipta, maka seni akan tetap lestari.
(Sumber gambar: @siapfest_2025)