Lestari: Perlawanan Halus terhadap Dehumanisasi Teknologi dalam Kanvas Rafael Akbar

Jumat, 14 November 2025 23:56:08
Lestari: Perlawanan Halus terhadap Dehumanisasi Teknologi dalam Kanvas Rafael Akbar


Di tengah derasnya arus digitalisasi dan kehadiran kecerdasan buatan yang semakin canggih, seorang seniman muda dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Rafael Akbar, menghadirkan karya yang memikat dan penuh makna berjudul “Lestari.” Lukisan ini bukan sekadar permainan warna dan bentuk, melainkan perenungan mendalam tentang eksistensi manusia di era ketika mesin mulai meniru kepekaan kita.

Kata ‘Lestari berarti abadi dan melalui karya ini Rafael menyampaikan keyakinan bahwa ekspresi serta emosi manusia dalam seni akan selalu hidup dan tidak tergantikan oleh teknologi. Lukisan tersebut menampilkan sosok seorang penari yang tubuhnya lentur, dinamis, dan sarat makna sebagai representasi spontanitas, serta kepekaan batin manusia. Gerakan sang penari seolah menari di antara dua dunia: yang organik dan yang digital.

Uniknya, latar belakang karya ini dipenuhi dengan teks besar bertuliskan ‘404’, yang merujuk pada kode kesalahan internet Page Not Found. Simbol tersebut berfungsi sebagai metafora atas kegagalan sistem digital untuk menemukan makna sejati dari emosi manusia. Mesin mungkin mampu menggandakan gambar, meniru gerakan, bahkan menciptakan komposisi warna, tetapi ia tetap gagal memahami kedalaman rasa yang lahir dari pengalaman hidup manusia.

Melalui Lestari, Rafael seakan menyampaikan pesan perlawanan halus terhadap dehumanisasi teknologi, sebuah proses di mana manusia perlahan kehilangan jati diri karena bergantung pada mesin. Namun, alih-alih menolak kemajuan digital, karya ini mengajak kita untuk menempatkan teknologi pada posisi yang proporsional: sebagai alat bantu, bukan pengganti. Seni tetap menjadi wilayah tempat kepekaan manusia bernafas, tempat di mana jiwa dan intuisi tidak bisa dikalkulasi oleh algoritma.

Dari sisi visual, Lestari menggabungkan teknik realistis dengan sentuhan abstrak yang simbolik. Kombinasi warna hangat dan kontras yang tajam menciptakan kesan hidup, sekaligus menegaskan bahwa seni manusia lahir dari kompleksitas emosi yang tidak pernah bisa disederhanakan.

Lebih dari sekadar karya lukisan, Lestari adalah refleksi eksistensial tentang makna menjadi manusia di era kecerdasan buatan. Rafael Akbar berhasil membingkai dilema zaman dengan bahasa visual yang puitis yang menghadirkan harapan bahwa selama manusia masih mampu merasakan, berimajinasi, dan mencipta, maka seni akan tetap lestari.


 
(Sumber gambar: @siapfest_2025)

Author
Written by
Sefiyan Eza Nur Hidayat

Penulis di platform Rasanya Lelang Karya yang berfokus pada seni dan budaya.

Editor
Edited by
Setiya Adi Buono

Editor konten di platform Rasanya Lelang Karya.