Nama Lucio
Fontana identik dengan keberanian artistik. Dari goresan pada permukaan kanvas
hingga eksperimen material, sang maestro kelahiran Argentina ini selalu menolak
batas tradisional seni. Dalam balai lelang Sotheby’s, salah satu karyanya yang
jarang muncul di pasar kembali memikat para kolektor: Donna allo Specchio,
sebuah patung terracotta berlapis glasir yang dibuat pada tahun 1951.
Berukuran 26 x 15
x 12 cm, karya ini menghadirkan sosok perempuan yang memandang ke cermin dalam
gaya ekspresif yang lugas, tetapi elegan. Fontana menandatangani karyanya
dengan inisial dan tanggal “51” pada bagian dalam, pengingat bahwa ia berada
pada periode kreatif yang intens. Pada masa itu ia baru saja memperluas
eksperimentasinya di Albissola—Kota Pesisir Liguria yang kelak menjadi
laboratorium ide-ide radikalnya tentang ruang, bahan, dan cahaya.
Donna allo
Specchio
bukan sekadar patung. Ia berdiri di persimpangan antara tradisi dan modernitas.
Latar belakang Fontana—dibesarkan dalam studio patung ayahnya, dilatih di
Accademia di Brera oleh Adolfo Wildt—memberinya dasar teknik yang kokoh. Namun,
sentuhan realisme di sini berubah menjadi abstraksi halus: bentuk membulat,
tekstur yang lembut, dan permukaan keramik yang mengkilap memantulkan cahaya,
menciptakan sensasi gerak.
Terdaftar resmi
di Fondazione Lucio Fontana Milan, karya ini memiliki provenance kuat, dari
koleksi pribadi Lugano hingga galeri Karsten Greve di Saint Moritz. Tidak
mengherankan jika estimasi Sotheby’s mencapai 40.000–60.000 euro (776.232.000 —
1.164.348.000 rupiah): sebuah nilai untuk keramik, tetapi lebih dari itu, untuk
visi seorang pionir seni modern.
(Sumber gambar: sothebys.com)