Nama Dullah tak
pernah lepas dari sejarah seni rupa Indonesia. Ditunjuk sebagai pelukis istana
oleh Presiden Sukarno pada tahun 1950, ia menjadi sosok penting yang memperkaya
wajah seni Indonesia lewat kemampuan realistisnya yang luar biasa. Dengan lebih
dari 80 karya yang pernah dikoleksi langsung oleh Sukarno, Dullah dikenal
sebagai maestro yang mampu menangkap detail kehidupan dengan ketelitian nyaris
fotografis.
Salah satu karya
pentingnya, Old Man (Kakek), kini kembali hadir ke publik melalui
pelelangan Global Auction. Lukisan ini menghadirkan potret seorang pria lanjut
usia dengan wajah yang merekam perjalanan hidup panjang, penuh garis, tekstur,
dan ekspresi mendalam. Dullah, dengan sapuan kuas yang teliti dan penuh
penghayatan, menggambarkan keriput di sekitar mata, guratan halus di pipi,
hingga tekstur pakaian yang terasa begitu nyata. Setiap detail menunjukkan
kedalaman empati sekaligus keterampilan teknik yang mengokohkan reputasinya
sebagai pelukis realis terbaik di masanya.
Dibuat pada tahun
1972, lukisan cat minyak di atas kanvas berukuran 58 x 49 cm ini ditandatangani
“Dullah ’72” di sudut kanan bawah. Dalam pelelangan, Old Man
diperkirakan bernilai SGD 4.200 – 6.400 atau setara IDR 50.000.000 –
75.000.000. Rentang nilai tersebut mencerminkan posisi penting karya Dullah
dalam pasar seni, sekaligus meningkatnya minat kolektor pada karya-karya realis
Indonesia era awal kemerdekaan.
Kehadiran Old
Man di lelang Global Auction bukan sekadar transaksi seni, tetapi sebuah
perayaan terhadap warisan visual bangsa, sebuah pengingat akan jejak Dullah
yang terus hidup melalui setiap guratan kuasnya.
(Sumber gambar: global.auction)