Ada sesuatu yang
sulit dijelaskan ketika berdiri di depan lukisan “Three Faces Papua” karya
Affandi. Getaran itu bukan hanya datang dari warna-warna liar yang menari di
kanvas, tetapi juga dari emosi yang seolah hidup di setiap goresan cat. Lukisan
yang dibuat tahun 1974 ini terpampang megah di Museum Affandi, Yogyakarta,
menjadi salah satu karya paling berharga dengan nilai fantastis mencapai Rp14
miliar.
Dengan ukuran 100
x 129 cm, lukisan ini memvisualisasikan tiga wajah masyarakat Papua dalam
ekspresi yang kuat, menggambarkan keragaman, penderitaan, dan kebanggaan yang
berpadu dalam harmoni. Gaya khas Affandi, yakni garis spontan, warna berani,
dan sapuan penuh tenaga, menjadikan karya ini bukan sekadar potret, melainkan
representasi jiwa manusia yang begitu dalam.
Diletakkan di
galeri khusus seluas lebih dari 300 meter persegi, karya ini menempati posisi
istimewa di antara koleksi sang maestro. Bagi banyak pengunjung, “Three Faces
Papua” bukan hanya lukisan, tetapi pengalaman spiritual. Ada sensasi tak
terucap antara kagum, haru, dan hormat terhadap seorang seniman yang mampu
menangkap makna kemanusiaan lewat ledakan warna.
Karya ini
membuktikan bahwa seni tidak sekadar dinilai dari harga, tetapi dari jiwa dan
energi yang ditinggalkan Affandi di setiap kanvasnya. “Three Faces Papua”
adalah bukti bahwa seni sejati tidak pernah diam, ia bergetar, berbicara, dan
terus menginspirasi generasi.
(Sumber gambar: kompasiana.com)