Karya Looking
For My Friend (2016) buatan Matthew Stone menghadirkan potret kegelisahan
manusia modern di tengah budaya digital yang serba cepat dan visual. Seniman
asal Inggris kelahiran 1982 ini dikenal luas lewat eksplorasinya terhadap
tubuh, teknologi, dan citra digital—dan karya ini menjadi contoh kuat dari
praktik artistiknya yang khas.
Menggunakan
medium digital print dan akrilik di atas linen, Stone mengaburkan batas antara
lukisan konvensional dan estetika layar gawai. Figur manusia dalam karya ini
tampak terfragmentasi, seolah muncul dari hasil sentuhan layar sentuh atau
hasil guliran media sosial. Judul Looking For My Friend sendiri terasa
personal, tetapi juga universal: pencarian akan relasi, kedekatan, dan
identitas di dunia yang makin terdigitalisasi.
Alih-alih
menghadirkan sosok secara utuh, Stone memilih pendekatan visual yang cair dan
ambigu. Tubuh manusia tidak lagi menjadi subjek yang stabil, melainkan objek
yang terus berubah—dipengaruhi teknologi, algoritma, dan cara kita mengonsumsi
gambar setiap hari. Lapisan akrilik yang menyatu dengan cetak digital
menciptakan kesan sensual sekaligus artifisial, mempertegas ketegangan antara
fisik dan virtual.
Karya ini pernah
dipamerkan melalui The Hole, New York, sebuah galeri yang dikenal mendukung
praktik seni kontemporer eksperimental, sebelum akhirnya dilelang di Sotheby’s
Hong Kong pada Maret 2023. Dengan estimasi 30.000–50.000 HKD (64.231.800 -
107.053.000 rupiah), Looking For My Friend menunjukkan bagaimana karya
seni berbasis digital kini semakin mendapat tempat di pasar seni global.
(Sumber gambar: sothebys.com)