Siapa sangka
sebuah lemari bisa menjadi bintang panggung lelang internasional? “Badminton
Cabinet”, sebuah mahakarya furnitur dari abad ke-18, bukan sekadar tempat
menyimpan barang, melainkan simbol prestise, kekuasaan, dan obsesi seorang
bangsawan Inggris terhadap keindahan. Lemari ini dipesan pada tahun 1726 oleh
Henry Somerset, Duke of Beaufort, kepada para pengrajin Florentine yang mahir
dalam teknik pietra dura, seni merangkai batu semi mulia menjadi gambar yang
menyerupai lukisan.
Proses
pembuatannya berlangsung selama enam tahun. Setiap panel dipenuhi lapis lazuli,
jasper, agate, quartz, dan batu berharga lainnya, disusun dengan presisi hampir
surgawi. Hasilnya adalah lemari monumental yang tak hanya indah, tetapi juga
mencerminkan tingkat kerajinan yang hampir mustahil dicapai pada masa itu.
Setelah selesai, lemari ini ditempatkan di Badminton House, salah satu kediaman
Somerset, dan berdiam di sana selama 25 tahun sebagai simbol kemewahan keluarga
Beaufort.
Berabad-abad
kemudian, dunia kembali menoleh ketika lemari ini dilelang oleh Sotheby’s
Singapore. Dengan nilai sejarah luar biasa, teknik pengerjaan langka, serta
material yang mewah, Badminton Cabinet terjual dengan harga fantastis, USD
36.662.106 atau setara dengan sekitar
IDR 524,83 miliar. Angka yang menegaskan statusnya sebagai salah satu furnitur
termahal yang pernah terjual di dunia.
Lebih dari
sekadar barang antik, Badminton Cabinet adalah bukti bagaimana seni, status
sosial, dan ambisi pribadi dapat melebur menjadi satu karya yang menantang
waktu dan tetap menjadi legenda dalam sejarah koleksi seni.
(Sumber gambar: liechtensteincollections.at)