Sejak usia dini, banyak laki-laki tumbuh dalam kepungan tuntutan yang seragam: harus kuat, dilarang menangis, dan wajib tampak tangguh dalam segala situasi. Standar ini seolah menjadi kurikulum tidak tertulis yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun, di balik topeng ketangguhan tersebut, sering kali tersimpan luka batin dan emosi yang dipendam rapat tanpa ruang untuk pulih. Fenomena inilah yang coba dibedah oleh seniman Arief Hadinata melalui pameran tunggal mininya yang bertajuk "Break The Loops".
Pameran ini berangkat dari kegelisahan terhadap pola toxic masculinity yang telah lama dianggap sebagai kewajaran. Maskulinitas jenis ini memandang kerentanan sebagai kelemahan, sehingga identitas laki-laki berkembang di bawah tekanan norma yang tidak sepenuhnya manusiawi. Pola ini terus berulang dan melingkar, memengaruhi cara laki-laki melihat dirinya sendiri, menjalin relasi dengan pasangan, hingga cara mereka membentuk karakter anak-anak mereka kelak.
Melalui karya-karyanya, Arief Hadinata mengajak kita menelusuri pengalaman personalnya sebagai seorang anak, ayah, pasangan, sekaligus sahabat. Ia tidak hanya menyajikan estetika visual, tetapi juga sebuah undangan untuk melakukan refleksi mendalam. Apakah siklus beban batin ini harus terus diwariskan? Ataukah kita memiliki keberanian untuk menghentikannya sekarang juga?
"Break The Loops" menegaskan bahwa memutus siklus trauma bukanlah tugas yang mudah, namun sangat krusial. Upaya ini bukan sekadar tentang penyembuhan personal, melainkan langkah besar menuju perubahan cara kita memahami, merawat, dan membangun relasi dalam komunitas. Dengan menghadirkan konsep maskulinitas yang lebih jujur dan manusiawi, pameran ini menawarkan harapan bagi setiap laki-laki untuk pulih dari standar masa lalu dan lahir kembali dengan identitas yang lebih sehat dan autentik.