Menelusuri “Masa Peralihan”: Ruang Renungan Sejarah di Cemeti Institute Yogyakarta

Jumat, 07 November 2025 21:34:40
Menelusuri “Masa Peralihan”: Ruang Renungan Sejarah di Cemeti Institute Yogyakarta

Di tengah hiruk pikuk dunia seni yang kian modern dan eksperimental, Cemeti Institute for Art and Society di Yogyakarta kembali menghadirkan pameran yang menggugah pikiran. Pameran tersebut bertajuk “Masa Peralihan” karya seniman Enka Komariah, berlangsung dari 26 September hingga 15 November 2025. Pameran tunggal ini menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini yang mengajak pengunjung menelusuri kembali potongan sejarah Indonesia yang sering kali terlupakan, tetapi masih terasa jejaknya di kehidupan sosial dan budaya kita hari ini.

Enka Komariah, yang dikenal lewat karya-karya reflektifnya tentang memori dan perubahan sosial, kali ini menghadirkan serangkaian instalasi, lukisan, dan arsip visual yang menggambarkan konsep “peralihan”. Dalam konteks sejarah Indonesia, masa peralihan bukan cuma soal pergantian kekuasaan politik atau perubahan sistem sosial, tetapi juga soal pergeseran nilai, cara berpikir, dan identitas masyarakat. Melalui karya-karyanya, Enka mengajak kita menyelami suasana batin bangsa yang sedang berproses dari masa kolonial menuju kemerdekaan, dari tradisi menuju modernitas, dari stabilitas menuju ketidakpastian.

Begitu melangkah ke ruang pameran, suasana “transisi” itu langsung terasa. Pencahayaan lembut berpadu dengan warna-warna kusam yang merepresentasikan kenangan masa lampau. Beberapa karya memanfaatkan arsip sejarah, potret keluarga lama, dan potongan surat pribadi yang digabung dengan medium modern, seperti video art dan instalasi cahaya. Kesan yang muncul bukan nostalgia, tetapi refleksi mendalam tentang bagaimana kita memaknai perubahan dan kehilangan.

Yang menarik, “Masa Peralihan” bukan hanya pameran visual, tetapi juga ruang dialog sosial. Cemeti Institute menghadirkan program diskusi publik, loka karya reflektif, dan tur edukatif yang terbuka untuk pelajar maupun mahasiswa. Bagi guru atau pendidik, pameran ini bisa jadi bahan ajar yang relevan untuk menumbuhkan nilai karakter dan pemahaman sosial-budaya pada siswa. Tema seperti identitas, sejarah, perubahan, dan empati budaya bisa diangkat untuk melatih kepekaan reflektif anak muda terhadap masa lalu bangsanya.

Lebih jauh lagi, pameran ini juga memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi “jembatan waktu”. Enka seolah ingin berkata bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar hilang; ia hanya bertransformasi dalam bentuk baru. Setiap karya di ruang pameran ini menjadi catatan kecil tentang keberlanjutan tentang bagaimana peristiwa besar meninggalkan bekas dalam keseharian dan bagaimana manusia terus beradaptasi di tengah arus sejarah.

“Masa Peralihan” terasa penting di masa kini, ketika kita hidup dalam era serba cepat dan instan. Pameran ini mengingatkan kita untuk berhenti sejenak, menengok ke belakang, dan memahami akar-akar budaya yang membentuk identitas kita hari ini. Di balik kesederhanaannya, karya-karya Enka menghadirkan ruang tenang untuk bertanya: bagaimana perubahan membentuk kita dan apa yang kita tinggalkan dalam perjalanan menuju masa depan.


 (Sumber gambar: @cemeti.institute)

Author
Written by
Sefiyan Eza Nur Hidayat

Penulis di platform Rasanya Lelang Karya yang berfokus pada seni dan budaya.

Editor
Edited by
Setiya Adi Buono

Editor konten di platform Rasanya Lelang Karya.