Di tengah hiruk
pikuk dunia seni yang kian modern dan eksperimental, Cemeti Institute for Art
and Society di Yogyakarta kembali menghadirkan pameran yang menggugah pikiran.
Pameran tersebut bertajuk “Masa Peralihan” karya seniman Enka Komariah,
berlangsung dari 26 September hingga 15 November 2025. Pameran tunggal ini
menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini yang mengajak pengunjung
menelusuri kembali potongan sejarah Indonesia yang sering kali terlupakan,
tetapi masih terasa jejaknya di kehidupan sosial dan budaya kita hari ini.
Enka Komariah,
yang dikenal lewat karya-karya reflektifnya tentang memori dan perubahan
sosial, kali ini menghadirkan serangkaian instalasi, lukisan, dan arsip visual
yang menggambarkan konsep “peralihan”. Dalam konteks sejarah Indonesia, masa
peralihan bukan cuma soal pergantian kekuasaan politik atau perubahan sistem
sosial, tetapi juga soal pergeseran nilai, cara berpikir, dan identitas
masyarakat. Melalui karya-karyanya, Enka mengajak kita menyelami suasana batin
bangsa yang sedang berproses dari masa kolonial menuju kemerdekaan, dari
tradisi menuju modernitas, dari stabilitas menuju ketidakpastian.
Begitu melangkah
ke ruang pameran, suasana “transisi” itu langsung terasa. Pencahayaan lembut
berpadu dengan warna-warna kusam yang merepresentasikan kenangan masa lampau.
Beberapa karya memanfaatkan arsip sejarah, potret keluarga lama, dan potongan
surat pribadi yang digabung dengan medium modern, seperti video art dan
instalasi cahaya. Kesan yang muncul bukan nostalgia, tetapi refleksi mendalam
tentang bagaimana kita memaknai perubahan dan kehilangan.
Yang menarik,
“Masa Peralihan” bukan hanya pameran visual, tetapi juga ruang dialog sosial.
Cemeti Institute menghadirkan program diskusi publik, loka karya reflektif, dan
tur edukatif yang terbuka untuk pelajar maupun mahasiswa. Bagi guru atau
pendidik, pameran ini bisa jadi bahan ajar yang relevan untuk menumbuhkan nilai
karakter dan pemahaman sosial-budaya pada siswa. Tema seperti identitas,
sejarah, perubahan, dan empati budaya bisa diangkat untuk melatih kepekaan
reflektif anak muda terhadap masa lalu bangsanya.
Lebih jauh lagi,
pameran ini juga memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi “jembatan waktu”.
Enka seolah ingin berkata bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar hilang; ia
hanya bertransformasi dalam bentuk baru. Setiap karya di ruang pameran ini
menjadi catatan kecil tentang keberlanjutan tentang bagaimana peristiwa besar
meninggalkan bekas dalam keseharian dan bagaimana manusia terus beradaptasi di
tengah arus sejarah.
“Masa Peralihan”
terasa penting di masa kini, ketika kita hidup dalam era serba cepat dan
instan. Pameran ini mengingatkan kita untuk berhenti sejenak, menengok ke
belakang, dan memahami akar-akar budaya yang membentuk identitas kita hari ini.
Di balik kesederhanaannya, karya-karya Enka menghadirkan ruang tenang untuk
bertanya: bagaimana perubahan membentuk kita dan apa yang kita tinggalkan dalam
perjalanan menuju masa depan.
(Sumber gambar: @cemeti.institute)