Di tengah pameran kolektif “Pulang Kampung”,
karya berjudul Kembali Ke Akar menarik perhatian bukan hanya karena
bentuknya, tetapi juga karena cerita di baliknya. Dibuat oleh Jemi Nikolaus,
karya ini menggunakan kain perca—bahan yang sering dianggap sisa dan tidak
bernilai—lalu diolah menjadi sesuatu yang penuh makna melalui teknik fabric
manipulation.
Karya ini mengangkat gagasan sederhana namun
dalam: manusia, seperti tumbuhan, perlu kembali ke akar. Dalam kehidupan yang
sering mengejar pencapaian, kita kerap lupa melihat ke dalam diri. Padahal,
dari situlah kekuatan sejati berasal. Setiap potongan kain dalam karya ini
seolah menjadi simbol pengalaman hidup—kecil, terpisah, namun jika disusun
dengan sabar, mampu membentuk sesuatu yang utuh dan indah.
Menariknya, karya ini juga dipasarkan dengan
harga Rp10.000.000. Harga tersebut bukan sekadar angka, tetapi mencerminkan
proses, gagasan, dan nilai artistik yang terkandung di dalamnya. Dalam dunia
pameran seni, menjual karya bukan hanya soal transaksi, tetapi juga tentang
menghargai ide dan perjalanan kreatif senimannya.
Kembali Ke Akar menunjukkan bahwa sesuatu yang dianggap remeh
bisa memiliki nilai tinggi ketika diolah dengan kesadaran dan makna. Karya ini
mengajak kita untuk tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga memahami
proses panjang di baliknya.