"Monumen Kekalahan” Karya Enka Komariah: Lukisan yang Menghidupkan Memori Kelam dalam Pameran “Masa Peralihan”

Sabtu, 08 November 2025 19:00:33
"Monumen Kekalahan” Karya Enka Komariah: Lukisan yang Menghidupkan Memori Kelam dalam Pameran “Masa Peralihan”


Dalam pameran tunggal bertajuk “Masa Peralihan”, seniman Enka Komariah menyoroti sisi lain dari sejarah yang kerap terabaikan oleh masa transisi sosial dan politik yang sarat luka. Salah satu karya yang paling menggugah dalam pameran ini adalah “Monumen Kekalahan” (2024), sebuah lukisan yang tidak sekadar menampilkan visual estetis, melainkan juga menghadirkan refleksi mendalam tentang memori kolektif bangsa.

Karya “Monumen Kekalahan” menggunakan media oil paint with water on a used document file accused communist from Pati area berukuran 96 x 130 cm. Enka memanfaatkan dokumen bekas tuduhan terhadap simpatisan komunis sebagai dasar lukisannya, sebuah pilihan material yang sarat makna historis dan emosional. Dari situ, lahirlah karya yang seolah berbicara tentang luka masa lalu yang belum benar-benar sembuh.

Secara visual, lukisan ini menampilkan warna-warna gelap dan kusam dengan sapuan cat yang cair dan kabur, menciptakan suasana muram dan ambigu. Tidak ada tokoh utama yang jelas, hanya fragmen, bayangan, dan lapisan-lapisan cat yang menyiratkan kekacauan dan kehilangan. Teknik ini menjadi cara Enka untuk menggambarkan “ketiadaan”, sebuah metafora bagi mereka yang dihapus dari catatan sejarah resmi.

Melalui pendekatan yang subtil, tetapi penuh emosi, Enka Komariah menghadirkan “Monumen Kekalahan” sebagai bentuk “anti-monumen.” Jika monumen biasanya dibangun untuk merayakan kemenangan dan kejayaan, karya ini justru memperingati kekalahan—bukan dalam arti negatif, tetapi sebagai upaya mengakui sisi lain dari sejarah manusia: duka, trauma, dan kehilangan identitas. Dengan itu, Enka mengajak penonton merenungkan makna sebenarnya dari kemenangan dan siapa yang berhak atasnya.

Karya ini juga menyinggung isu keberlanjutan memori: bagaimana sejarah sering kali ditulis oleh pihak yang berkuasa, sementara suara mereka yang “kalah” justru tenggelam dalam diam. Melalui lukisan ini, Enka berupaya “merekam kembali” ingatan-ingatan yang nyaris terlupakan, menghadirkannya kembali dalam ruang publik seni rupa.

Pameran “Masa Peralihan” sendiri berfokus pada periode sejarah yang penuh gejolak di Indonesia, mulai dari invasi kolonial, perang, hingga peristiwa ‘65/66. Semua karya dalam pameran ini menampilkan fragmen transisi, menggambarkan bagaimana identitas bangsa terus dibentuk melalui pergeseran sosial, politik, dan budaya.

“Monumen Kekalahan” bukan hanya karya seni, tetapi juga pengingat. Enka Komariah mengajak publik untuk menatap kembali masa lalu, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memahami. Dalam konteks seni kontemporer Indonesia, karya ini menjadi representasi penting tentang bagaimana seni mampu berbicara melebihi kata-kata menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Dengan kekuatan naratif dan simbolisme yang mendalam, “Monumen Kekalahan” menunjukkan bahwa seni bisa menjadi ruang penyembuhan dan perenungan. Lewat pameran “Masa Peralihan”, Enka Komariah menegaskan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar berakhir, tetapi ia hanya berganti bentuk, menunggu untuk dipahami kembali melalui mata dan hati manusia.

 

 

 (Sumber gambar: @cemeti.institute)

Author
Written by
Sefiyan Eza Nur Hidayat

Penulis di platform Rasanya Lelang Karya yang berfokus pada seni dan budaya.

Editor
Edited by
Setiya Adi Buono

Editor konten di platform Rasanya Lelang Karya.