Dalam pameran
tunggal bertajuk “Masa Peralihan”, seniman Enka Komariah menyoroti sisi lain
dari sejarah yang kerap terabaikan oleh masa transisi sosial dan politik yang
sarat luka. Salah satu karya yang paling menggugah dalam pameran ini adalah
“Monumen Kekalahan” (2024), sebuah lukisan yang tidak sekadar menampilkan
visual estetis, melainkan juga menghadirkan refleksi mendalam tentang memori
kolektif bangsa.
Karya
“Monumen Kekalahan” menggunakan media oil
paint with water on a used document file accused communist from Pati area
berukuran 96 x 130 cm. Enka memanfaatkan dokumen bekas tuduhan terhadap simpatisan komunis
sebagai dasar lukisannya, sebuah pilihan material yang sarat makna historis dan
emosional. Dari situ, lahirlah karya yang seolah berbicara tentang luka masa
lalu yang belum benar-benar sembuh.
Secara visual,
lukisan ini menampilkan warna-warna gelap dan kusam dengan sapuan cat yang cair
dan kabur, menciptakan suasana muram dan ambigu. Tidak ada tokoh utama yang
jelas, hanya fragmen, bayangan, dan lapisan-lapisan cat yang menyiratkan
kekacauan dan kehilangan. Teknik ini menjadi cara Enka untuk menggambarkan
“ketiadaan”, sebuah metafora bagi mereka yang dihapus dari catatan sejarah
resmi.
Melalui
pendekatan yang subtil, tetapi penuh emosi, Enka Komariah menghadirkan “Monumen
Kekalahan” sebagai bentuk “anti-monumen.” Jika monumen biasanya dibangun untuk
merayakan kemenangan dan kejayaan, karya ini justru memperingati
kekalahan—bukan dalam arti negatif, tetapi sebagai upaya mengakui sisi lain
dari sejarah manusia: duka, trauma, dan kehilangan identitas. Dengan itu, Enka
mengajak penonton merenungkan makna sebenarnya dari kemenangan dan siapa yang
berhak atasnya.
Karya ini juga
menyinggung isu keberlanjutan memori: bagaimana sejarah sering kali ditulis
oleh pihak yang berkuasa, sementara suara mereka yang “kalah” justru tenggelam
dalam diam. Melalui lukisan ini, Enka berupaya “merekam kembali”
ingatan-ingatan yang nyaris terlupakan, menghadirkannya kembali dalam ruang
publik seni rupa.
Pameran “Masa
Peralihan” sendiri berfokus pada periode sejarah yang penuh gejolak di
Indonesia, mulai dari invasi kolonial, perang, hingga peristiwa ‘65/66. Semua
karya dalam pameran ini menampilkan fragmen transisi, menggambarkan bagaimana
identitas bangsa terus dibentuk melalui pergeseran sosial, politik, dan budaya.
“Monumen
Kekalahan” bukan hanya karya seni, tetapi juga pengingat. Enka Komariah
mengajak publik untuk menatap kembali masa lalu, bukan untuk menghakimi,
melainkan untuk memahami. Dalam konteks seni kontemporer Indonesia, karya ini
menjadi representasi penting tentang bagaimana seni mampu berbicara melebihi
kata-kata menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Dengan kekuatan
naratif dan simbolisme yang mendalam, “Monumen Kekalahan” menunjukkan bahwa
seni bisa menjadi ruang penyembuhan dan perenungan. Lewat pameran “Masa
Peralihan”, Enka Komariah menegaskan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar
berakhir, tetapi ia hanya berganti bentuk, menunggu untuk dipahami kembali
melalui mata dan hati manusia.
(Sumber gambar: @cemeti.institute)