Di tengah dunia
yang semakin dikuasai oleh logika mesin dan teknologi dingin, sebuah karya
berjudul “Penjaga Jiwa Tradisi” oleh Maulida Anggoro Kasih yang
merupakan peraih platinum medals pada Siapfest 2025. Karya tersebut hadir
sebagai pengingat tentang pentingnya menjaga ruh budaya. Dalam karya ini,
seorang anak digambarkan duduk di atas seekor ikan Barong raksasa yang terbang
di angkasa, yakni simbol kekuatan, pelindung, sekaligus perwujudan semangat
budaya Nusantara yang tak lekang oleh waktu.
Tubuh Barong yang
berkilau, dengan wajah garang, tetapi penuh makna, memancarkan kekuatan
spiritual yang tak bisa dijelaskan dengan logika modern. Anak kecil yang
mengenakan topeng Barong dan memegang erat tubuh makhluk mistis itu
melambangkan keterhubungan antara manusia dan tradisi, antara masa kini dan
akar masa lalu. Dalam genggaman anak itu, tersimpan pesan bahwa warisan budaya
tidak akan pernah hilang selama masih ada generasi yang memeluknya dengan hati.
Di latar
belakang, barisan robot berdiri diam, menatap tanpa ekspresi. Mereka menjadi
simbol dunia modern yang serba otomatis, efisien, dan rasional, tetapi
kehilangan kehangatan makna. Kontras ini menciptakan ketegangan visual yang
kuat: di satu sisi, ada kehidupan dan jiwa yang terpancar dari hubungan manusia
dengan simbol tradisi; di sisi lain, ada keheningan mekanis yang tak mengenal
perasaan.
Melalui perpaduan
antara mitos, simbolisme, dan refleksi sosial, karya ini berbicara tentang
bagaimana budaya bukan sekadar pengetahuan yang bisa diprogram, melainkan
sesuatu yang hidup dalam diri manusia. Ia bernafas melalui rasa, keyakinan, dan
kebersamaan. Tanpa keterlibatan jiwa, tradisi hanya akan menjadi data mati atau
sekadar arsip tanpa makna.
“Penjaga Jiwa
Tradisi” pada akhirnya mengajak kita
merenung tentang masa depan identitas manusia di tengah revolusi teknologi.
Ketika dunia semakin cepat berubah, manusia justru perlu menoleh ke dalam:
mengingat bahwa jati diri dan nilai-nilai leluhur adalah jangkar yang menjaga
kita agar tidak hanyut dalam arus kemajuan karena hanya dengan hati yang
terhubung pada budaya, manusia bisa tetap menjadi manusia, bukan sekadar mesin
yang bergerak tanpa arah.
(Sumber gambar: @siapfest_2025)