Penjaga Jiwa Tradisi: Antara Barong Terbang dan Dunia yang Kian Mekanis oleh Maulida Anggoro Kasih

Senin, 17 November 2025 22:22:39
Penjaga Jiwa Tradisi: Antara Barong Terbang dan Dunia yang Kian Mekanis oleh Maulida Anggoro Kasih

Di tengah dunia yang semakin dikuasai oleh logika mesin dan teknologi dingin, sebuah karya berjudul Penjaga Jiwa Tradisioleh Maulida Anggoro Kasih yang merupakan peraih platinum medals pada Siapfest 2025. Karya tersebut hadir sebagai pengingat tentang pentingnya menjaga ruh budaya. Dalam karya ini, seorang anak digambarkan duduk di atas seekor ikan Barong raksasa yang terbang di angkasa, yakni simbol kekuatan, pelindung, sekaligus perwujudan semangat budaya Nusantara yang tak lekang oleh waktu.

Tubuh Barong yang berkilau, dengan wajah garang, tetapi penuh makna, memancarkan kekuatan spiritual yang tak bisa dijelaskan dengan logika modern. Anak kecil yang mengenakan topeng Barong dan memegang erat tubuh makhluk mistis itu melambangkan keterhubungan antara manusia dan tradisi, antara masa kini dan akar masa lalu. Dalam genggaman anak itu, tersimpan pesan bahwa warisan budaya tidak akan pernah hilang selama masih ada generasi yang memeluknya dengan hati.

Di latar belakang, barisan robot berdiri diam, menatap tanpa ekspresi. Mereka menjadi simbol dunia modern yang serba otomatis, efisien, dan rasional, tetapi kehilangan kehangatan makna. Kontras ini menciptakan ketegangan visual yang kuat: di satu sisi, ada kehidupan dan jiwa yang terpancar dari hubungan manusia dengan simbol tradisi; di sisi lain, ada keheningan mekanis yang tak mengenal perasaan.

Melalui perpaduan antara mitos, simbolisme, dan refleksi sosial, karya ini berbicara tentang bagaimana budaya bukan sekadar pengetahuan yang bisa diprogram, melainkan sesuatu yang hidup dalam diri manusia. Ia bernafas melalui rasa, keyakinan, dan kebersamaan. Tanpa keterlibatan jiwa, tradisi hanya akan menjadi data mati atau sekadar arsip tanpa makna.

“Penjaga Jiwa Tradisi pada akhirnya mengajak kita merenung tentang masa depan identitas manusia di tengah revolusi teknologi. Ketika dunia semakin cepat berubah, manusia justru perlu menoleh ke dalam: mengingat bahwa jati diri dan nilai-nilai leluhur adalah jangkar yang menjaga kita agar tidak hanyut dalam arus kemajuan karena hanya dengan hati yang terhubung pada budaya, manusia bisa tetap menjadi manusia, bukan sekadar mesin yang bergerak tanpa arah.


 
(Sumber gambar: @siapfest_2025)

Author
Written by
Sefiyan Eza Nur Hidayat

Penulis di platform Rasanya Lelang Karya yang berfokus pada seni dan budaya.

Editor
Edited by
Setiya Adi Buono

Editor konten di platform Rasanya Lelang Karya.