Dalam pameran
tunggal bertajuk “Masa Peralihan”, seniman Enka Komariah menelusuri jejak
sejarah Indonesia melalui medium lukisan yang sarat makna dan emosi. Salah satu
karya yang mencuri perhatian dalam pameran ini adalah “Peristiwa Jawa 1811”,
sebuah lukisan yang menghidupkan kembali memori kolonialisme Inggris di tanah
Jawa. Lewat sapuan kuasnya, Enka menghadirkan tafsir artistik atas periode
transisi penting ketika kekuasaan berpindah dari Belanda ke Inggris yang
merupakan masa penanda perubahan besar dalam sistem sosial dan politik
Nusantara.
Lukisan
“Peristiwa Jawa 1811” digarap dengan pendekatan campuran antara cat minyak dan
bahan arsip sejarah, menciptakan lapisan tekstur yang menggambarkan
kompleksitas masa itu. Warna-warna dominan seperti cokelat tanah, biru
keabu-abuan, dan merah kusam menghadirkan atmosfer tegang dan muram.
Komposisinya tampak tidak stabil, ada figur samar, bentang kota kolonial, dan
bayangan yang tumpang tindih yang menandakan masa penuh ketidakpastian. Enka
tidak berusaha merekam peristiwa secara realistis, melainkan menangkap “rasa
peralihan” yang terjadi: kebingungan, perlawanan, dan kehilangan arah.
Melalui karya
ini, Enka Komariah ingin memperlihatkan bagaimana sejarah tidak hanya berisi
tanggal dan nama besar, tetapi juga lapisan emosi dan trauma kolektif
masyarakat. “Peristiwa Jawa 1811” menjadi representasi dari bagaimana kekuasaan
kolonial mengubah wajah sosial masyarakat Jawa dari sistem tradisional menuju
struktur yang dikendalikan oleh ekonomi kolonial. Dalam pandangan Enka,
perubahan itu bukan hanya soal politik, tetapi juga perubahan cara berpikir dan
cara hidup masyarakat lokal.
Menariknya, Enka
tidak menempatkan kolonialisme sebagai cerita “hitam-putih.” Ia justru
menghadirkan ambiguitas: ada nuansa keterpaksaan sekaligus adaptasi, ada
kekalahan, tetapi juga pembelajaran. Pendekatan ini membuat karyanya terasa
relevan bagi pembaca masa kini, yang hidup di tengah perubahan sosial yang
serupa—dari analog ke digital, dari lokal ke global.
Pameran “Masa
Peralihan” secara keseluruhan memang mengeksplorasi tema transisi baik sejarah
maupun identitas. “Peristiwa Jawa 1811” menjadi salah satu karya yang
menegaskan posisi Enka Komariah sebagai seniman yang peka terhadap ingatan dan
narasi alternatif sejarah.
(Sumber gambar: @cemeti.institute)