Perkembangan teknologi digital dan media sosial dinilai tidak menghilangkan relevansi pendidikan seni maupun profesi seniman. Guru Besar Antropologi Universitas Negeri Semarang, Prof. Tjetjep Rohendi, menyatakan bahwa teknologi hanya berfungsi sebagai alat, sementara esensi seni tetap berada pada pengalaman dan ekspresi manusia.
Menurut Tjetjep, kemajuan teknologi memang mempermudah proses penciptaan karya, termasuk dalam bidang musik maupun seni visual. Namun, teknologi tidak dapat sepenuhnya menggantikan proses kreatif yang lahir dari pengalaman, kepekaan, dan rasa individu.
“Teknologi mempermudah pencapaian tujuan, tetapi esensi seni bukan pada alatnya. Ketika alat yang sama digunakan oleh orang yang berbeda, hasilnya tetap akan berbeda karena ada pengalaman dan rasa di dalamnya,” ujar Tjetjep.
Ia mencontohkan perkembangan kamera dalam sejarah seni rupa. Kehadiran kamera yang mampu menangkap bentuk secara realistis tidak membuat seni lukis hilang. Sebaliknya, situasi tersebut justru melahirkan pendekatan baru seperti impresionisme yang berupaya menangkap cahaya dan suasana.
Tjetjep menambahkan bahwa teknologi juga dapat menjadi medium dalam penciptaan seni, misalnya melalui fotografi dan film. Dalam konteks tersebut, teknologi tetap berperan sebagai sarana untuk mengekspresikan nilai estetika.
Menurutnya, seni memiliki dimensi emosional yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh sistem teknologi yang bersifat algoritmik.
“Seni bekerja pada rasa dan pengalaman manusia. Di situlah letak keunikannya,” katanya.
Ia menilai hubungan antara teknologi dan seni tidak perlu dipertentangkan, melainkan dapat saling melengkapi dalam perkembangan kebudayaan. Dukungan kebijakan serta ruang pengembangan yang seimbang dinilai penting agar keduanya dapat tumbuh bersama.
“Seni tidak pernah benar-benar hilang karena berkaitan dengan pengalaman hidup manusia. Selama manusia ada, seni juga akan tetap ada,” ujarnya.