Pulang yang Bernama Ibu: Membaca Hangatnya “Biyung”

Selasa, 17 Maret 2026 22:20:24

Karya berjudul “Biyung” menghadirkan cerita sederhana yang terasa begitu dekat. Lukisan ini dibuat oleh Faza Husnil Hammi sebagai bentuk ingatan tentang ibunya. Terinspirasi dari foto lama, lukisan ini menangkap momen ketika sang ibu menyuapi dirinya saat masih kecil. Tidak ada kejadian besar, hanya aktivitas kecil yang justru menyimpan kehangatan mendalam.

Latar lukisan ini juga tidak dibuat mewah. Rumah kontrakan sederhana menjadi ruang utama cerita. Dinding kayu, sekat kamar dari kardus, hingga lantai acian yang dibuat oleh pamannya menjadi detail yang memperkuat suasana. Semua elemen itu bukan sekadar latar, tetapi bagian dari memori yang membentuk kehidupan masa kecilnya.

Yang menarik, karya ini juga membawa pemaknaan pulang yang berbeda. Bagi sebagian orang, pulang kampung berarti kembali ke tempat asal. Namun bagi Faza, pulang tidak selalu soal tempat. Ia bahkan merasa tidak memiliki kampung halaman dalam arti umum. Pulang justru selalu mengarah pada sosok ibunya.

Melalui “Biyung”, kita diajak melihat bahwa rumah bisa hadir dalam bentuk yang sangat personal. Bukan bangunan atau alamat, tetapi kehadiran seseorang yang memberi rasa hangat. Dalam hal ini, ibu menjadi pusat dari segala rasa pulang, tempat di mana kenangan, kasih sayang, dan identitas bertemu.

Author
Written by
Sefiyan Eza Nur Hidayat

Penulis di platform Rasanya Lelang Karya yang berfokus pada seni dan budaya.

Editor
Edited by
Desyfa Cahya Aina

Editor konten di platform Rasanya Lelang Karya.