Karya berjudul “Biyung” menghadirkan
cerita sederhana yang terasa begitu dekat. Lukisan ini dibuat oleh Faza Husnil
Hammi sebagai bentuk ingatan tentang ibunya. Terinspirasi dari foto lama,
lukisan ini menangkap momen ketika sang ibu menyuapi dirinya saat masih kecil.
Tidak ada kejadian besar, hanya aktivitas kecil yang justru menyimpan
kehangatan mendalam.
Latar lukisan ini juga tidak dibuat mewah.
Rumah kontrakan sederhana menjadi ruang utama cerita. Dinding kayu, sekat kamar
dari kardus, hingga lantai acian yang dibuat oleh pamannya menjadi detail yang
memperkuat suasana. Semua elemen itu bukan sekadar latar, tetapi bagian dari
memori yang membentuk kehidupan masa kecilnya.
Yang menarik, karya ini juga membawa pemaknaan
pulang yang berbeda. Bagi sebagian orang, pulang kampung berarti kembali ke
tempat asal. Namun bagi Faza, pulang tidak selalu soal tempat. Ia bahkan merasa
tidak memiliki kampung halaman dalam arti umum. Pulang justru selalu mengarah
pada sosok ibunya.
Melalui “Biyung”, kita diajak melihat bahwa
rumah bisa hadir dalam bentuk yang sangat personal. Bukan bangunan atau alamat,
tetapi kehadiran seseorang yang memberi rasa hangat. Dalam hal ini, ibu menjadi
pusat dari segala rasa pulang, tempat di mana kenangan, kasih sayang, dan
identitas bertemu.