Perkembangan
industri seni di Indonesia semakin tampak melalui cara balai lelang memadukan
tradisi dengan teknologi. Dalam lelang yang diselenggarakan PT Balai Lelang
Larasati di Ubud, metode penawaran tidak hanya dilakukan secara langsung,
tetapi juga melalui telepon dan internet live auction. Langkah ini membuka
peluang lebih luas bagi kolektor global untuk ikut serta tanpa batas geografis.
Afslager (pemandu
lelang) berpengalaman yakni Anita Archer memainkan peran penting dalam dinamika
lelang ini. Dengan gaya komunikasinya yang lugas, ia mampu menciptakan ritme
kompetisi yang hidup, memancing penawaran tinggi sekaligus menjaga suasana tetap
elegan. Hasilnya, sejumlah karya bahkan melampaui taksiran awal secara
signifikan, seperti ukiran “Devotion” karya I Ketut Djedeng yang
melonjak dari estimasi 1,5 juta menjadi 13 juta rupiah.
Pemanfaatan
teknologi ini tidak hanya menguntungkan penawar, tetapi juga membuka pintu bagi
seniman lokal. Daniel dari PT Larasati menegaskan bahwa pihaknya ingin
menjangkau lebih banyak perupa Bali agar karya mereka bisa masuk ke jaringan
pasar seni internasional.
Dengan dukungan
pejabat lelang dan pemantauan dari Kanwil DJKN, proses lelang seni kini
bergerak menuju sistem yang lebih modern, akuntabel, dan inklusif. Teknologi
menjembatani seni Indonesia untuk tampil di panggung global, tanpa kehilangan
sentuhan tradisi yang menjadi identitasnya.
(Sumber gambar: djkn.kemenkeu.go.id)