Di antara deretan
karya ekspresionis Affandi, “Three Stray Dogs” (1965) menjadi salah satu
lukisan yang paling menyentuh sekaligus menggugah. Inspirasi karya ini muncul
dari sebuah adegan sederhana, tetapi simbolik. Pak Jimin, sopir pribadi
Affandi, memberi makan anjing-anjing liar di bawah pohon cendana di Bali. Momen
tersebut bukan hanya sekadar pemandangan harian, tetapi refleksi kehidupan yang
membuat sang maestro penasaran sekaligus tersentuh.
Anjing-anjing itu
berebut makanan, saling berkelahi, bergerak agresif, dan menunjukkan insting
bertahan hidup yang kasar. Bagi Affandi, adegan tersebut menyerupai perilaku
manusia, persaingan yang tak jarang berakhir merugikan diri sendiri. Tema
anjing liar pun sering muncul dalam karya-karya Affandi sebagai metafora
tentang dinamika sosial.
Dalam karya ini,
Affandi menggambarkan tiga anjing dengan warna kontras, yakni hitam, merah, dan
putih yang membentuk tensi visual kuat di atas kanvas. Eksekusi spontan, sapuan
kasar, dan teknik khas menggunakan tangan serta jemari membuat tiap gerakan terasa
hidup. Emosi dan energi seolah meledak dari permukaan lukisan, memperlihatkan
betapa intensnya proses kreatif sang pelukis.
Di sudut kiri
atas, simbol ‘Matahari, Kaki, dan Tangan’ turut hadir, menjadi tanda kepuasan
pribadi Affandi terhadap karyanya. Lebih dari lukisan tentang hewan, “Three
Stray Dogs” adalah cermin kehidupan yang liar, keras, tetapi jujur apa adanya.
(Sumber gambar: artopologi.com)