Gelaran lelang
seni “Tradisional Modern and Temporary Art” di Larasati Fine Art Tebesaya
Galleri, Ubud, kembali menunjukkan bahwa Bali bukan hanya pusat pariwisata,
tetapi juga simpul penting peredaran karya seni nasional dan internasional.
Dipimpin Pejabat Lelang Kelas II Ni Luh Pujiantini dan dipandu afslager
berpengalaman Anita Archer, acara ini memamerkan dinamika pasar seni yang
semakin modern, transparan, dan inklusif.
Sebanyak 70 lot
ditawarkan, mulai dari lukisan berbagai aliran hingga ukiran kayu. Antusiasme
peserta dari Indonesia, Prancis, hingga Belanda menunjukkan bahwa karya seniman
Indonesia terus memiliki daya tarik global. Teknologi live auction ikut
memperluas jangkauan, memungkinkan penawaran tanpa harus hadir langsung.
Hasilnya pun
mengesankan: 44 lot terjual dengan total pokok lelang mencapai 1,4 miliar
rupiah. Penjualan tertinggi diraih karya Jan Christiaan Poortenaar bertajuk
“Javanes Dancer”, disusul ukiran I Ketut Djedeng yang melampaui nilai taksiran
hampir sepuluh kali lipat.
Lebih dari
sekadar transaksi, lelang ini menjadi ruang temu antara pelaku seni, kolektor,
dan lembaga negara. Seperti disampaikan Ni Made Ayu Sri Astini, sinergi antara
pejabat lelang dan balai lelang diharapkan terus diperkuat agar semakin banyak
seniman Bali dapat tampil dan memperoleh panggung yang setara.
(Sumber gambar: djkn.kemenkeu.go.id)