Pada Mei 2025,
dunia seni kembali menaruh perhatian pada maestro asal Bandung, Sunaryo, ketika
karyanya yang berjudul Tri Hita Karana dilelang di Global Auction.
Lukisan ini bukan sekadar karya visual, tetapi sebuah ruang meditasi yang
merangkum filosofi Bali tentang keseimbangan hidup. Tri Hita Karana,
tiga sumber kebahagiaan yang mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan roh.
Sunaryo menerjemahkan konsep tersebut ke dalam bahasa rupa yang kuat sekaligus
kontemplatif.
Dalam karya ini,
tampak sekelompok komunitas yang larut dalam ritual, menghadirkan suasana
sakral yang memancar dari setiap sudut kanvas. Warna merah yang intens
mengalir, seperti energi kehidupan, beradu lembut dengan biru yang menenangkan,
menciptakan ritme visual yang memikat. Setiap goresan menghadirkan gerak
berputar, seolah cahaya dan dinamika spiritual tengah berpadu dalam satu
tarikan napas.
Tidak
mengherankan jika lukisan ini berdenyut dengan rasa hormat, sebuah penghormatan
Sunaryo terhadap tradisi dan nilai-nilai yang membentuk identitas budaya
Nusantara. Tri Hita Karana bukan hanya karya estetis, tetapi juga
jembatan yang menghubungkan kita dengan kebijaksanaan lama. Pameran dan
pelelangannya menegaskan posisi Sunaryo sebagai visioner yang mampu merawat
tradisi sekaligus mendorongnya menembus batas zaman.
(Sumber gambar: global.auction)