Yang Tak Terukur oleh Mesin: Menyelami Emosi yang Tak Bisa Diprogram oleh Peraih Platinum Medals pada Sapfest 2025

Senin, 17 November 2025 22:20:55
Yang Tak Terukur oleh Mesin: Menyelami Emosi yang Tak Bisa Diprogram oleh Peraih Platinum Medals pada Sapfest 2025

Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi, seni menjadi ruang refleksi yang paling jujur tentang apa arti menjadi manusia. Karya berjudul Yang Tak Terukur oleh Mesin oleh M. Rijalul Azka Arifin dari Unnes, hadir sebagai sebuah penjelajahan emosional antara manusia dan kecerdasan buatan, tetapi dengan sentuhan yang lembut dan menyentuh: hubungan antara anak dan orang tua. Di balik narasinya yang futuristik, karya ini justru mengajak kita menengok kembali hal paling purba dan universal, yakni rasa kasih sayang yang tak bisa direkayasa.

Karya ini memvisualisasikan bagaimana emosi, kenangan, dan kehangatan menjadi sesuatu yang mustahil ditiru sepenuhnya oleh mesin. Melalui perpaduan antara ekspresi manusia dan elemen visual yang dingin dan mekanis, seniman mencoba menggambarkan batas yang mulai kabur antara realitas manusia dan kecerdasan buatan. Namun, di balik kecanggihan itu, ada sesuatu yang tetap tak tersentuh oleh logika algoritma: kerinduan dan kasih.

Yang Tak Terukur oleh Mesin seolah menjadi pernyataan visual tentang nilai kemanusiaan di era digital. Ketika dunia semakin bergantung pada teknologi, karya ini mengingatkan bahwa ada hal-hal yang tak bisa diukur dengan data, tak bisa dipahami dengan kode, dan tak bisa diprediksi oleh sistem pintar mana pun. Emosi manusia—dalam bentuk paling sederhana, seperti pelukan, kenangan masa kecil, atau rindu yang diam—tetap menjadi wilayah yang tak bisa ditembus mesin.

Lebih jauh lagi, karya ini membuka ruang diskusi tentang makna ‘kesadaran’. Apakah mesin benar-benar bisa merasakan atau hanya meniru respon emosional manusia? Lewat visualnya, seniman seolah menjawab: manusia dan mesin bisa hidup berdampingan, tetapi tidak bisa disamakan. Ada dimensi spiritual dan emosional yang membuat manusia tetap unik, tetap hidup, dan tetap hangat.

Pada akhirnya, Yang Tak Terukur oleh Mesin bukan sekadar karya seni tentang teknologi, melainkan tentang kemanusiaan itu sendiri. Ia mengajak kita merenung di tengah dunia yang semakin canggih bahwa hal paling berharga justru adalah yang paling sederhana: rasa, kenangan, dan cinta, sesuatu yang bahkan algoritma tercanggih pun belum sanggup memahami.


 
(Sumber gambar: @siapfest_2025)

Author
Written by
Sefiyan Eza Nur Hidayat

Penulis di platform Rasanya Lelang Karya yang berfokus pada seni dan budaya.

Editor
Edited by
Setiya Adi Buono

Editor konten di platform Rasanya Lelang Karya.