Di tengah
derasnya arus perkembangan teknologi, seni menjadi ruang refleksi yang paling
jujur tentang apa arti menjadi manusia. Karya berjudul “Yang Tak Terukur oleh Mesin”
oleh M. Rijalul Azka Arifin dari Unnes, hadir sebagai sebuah penjelajahan
emosional antara manusia dan kecerdasan buatan, tetapi dengan sentuhan yang
lembut dan menyentuh: hubungan antara anak dan orang tua. Di balik narasinya
yang futuristik, karya ini justru mengajak kita menengok kembali hal paling
purba dan universal, yakni rasa kasih sayang yang tak bisa direkayasa.
Karya ini
memvisualisasikan bagaimana emosi, kenangan, dan kehangatan menjadi sesuatu
yang mustahil ditiru sepenuhnya oleh mesin. Melalui perpaduan antara ekspresi
manusia dan elemen visual yang dingin dan mekanis, seniman mencoba
menggambarkan batas yang mulai kabur antara realitas manusia dan kecerdasan
buatan. Namun, di balik kecanggihan itu, ada sesuatu yang tetap tak tersentuh
oleh logika algoritma: kerinduan dan kasih.
“Yang Tak Terukur oleh Mesin” seolah menjadi pernyataan visual tentang nilai kemanusiaan di era
digital. Ketika dunia semakin bergantung pada teknologi, karya ini mengingatkan
bahwa ada hal-hal yang tak bisa diukur dengan data, tak bisa dipahami dengan
kode, dan tak bisa diprediksi oleh sistem pintar mana pun. Emosi manusia—dalam
bentuk paling sederhana, seperti pelukan, kenangan masa kecil, atau rindu yang
diam—tetap menjadi wilayah yang tak bisa ditembus mesin.
Lebih jauh lagi,
karya ini membuka ruang diskusi tentang makna ‘kesadaran’. Apakah mesin
benar-benar bisa merasakan atau hanya meniru respon emosional manusia? Lewat
visualnya, seniman seolah menjawab: manusia dan mesin bisa hidup berdampingan,
tetapi tidak bisa disamakan. Ada dimensi spiritual dan emosional yang membuat
manusia tetap unik, tetap hidup, dan tetap hangat.
Pada akhirnya, “Yang Tak Terukur oleh Mesin” bukan sekadar karya seni tentang
teknologi, melainkan tentang kemanusiaan itu sendiri. Ia mengajak kita merenung
di tengah dunia yang semakin canggih bahwa hal paling berharga justru adalah
yang paling sederhana: rasa, kenangan, dan cinta, sesuatu yang bahkan algoritma
tercanggih pun belum sanggup memahami.
(Sumber gambar: @siapfest_2025)