Batik Dugderan: Merawat Akulturasi Semarang dalam Selembar Kain

Jumat, 27 Februari 2026 23:40:04

Kekayaan budaya Kota Semarang kembali menemukan wujudnya dalam karya batik berjudul Pamore Dugderan ing Semarang karya Amelia Mardati Putri, S.Pd.. Batik berukuran 150 x 100 cm ini tidak sekadar menjadi karya kriya, tetapi juga narasi visual tentang perjumpaan budaya Tionghoa, Arab, dan Jawa yang hidup berdampingan dalam tradisi Dugderan.

Tradisi Dugderan, yang menjadi penanda datangnya bulan Ramadan, dihadirkan melalui simbol warak ngendog, ikon khas Semarang yang sarat makna persatuan. Amelia memadukannya dengan motif parang pamor, motif klasik batik yang melambangkan kekuatan, kesinambungan, dan kewibawaan. Perpaduan ini menghadirkan pesan yang kuat: tradisi adalah warisan yang terus bergerak, tidak terputus oleh zaman.

Pilihan warna cerah menjadi kekuatan visual utama karya ini. Warna-warna tersebut menggambarkan kegembiraan masyarakat dalam menyambut harapan dan kebaikan, sekaligus menegaskan karakter Dugderan sebagai perayaan rakyat yang inklusif. Guratan malam yang rapi dan komposisi motif yang seimbang menunjukkan latar belakang Amelia sebagai lulusan pendidikan kriya, sekaligus pengalamannya sebagai guru seni budaya di SMP Negeri 25 Semarang.

Karya Pamore Dugderan ing Semarang saat ini dilelang melalui rasanyalelangkarya.com dengan harga Rp6.444.000. Lelang ini menjadi ruang temu antara karya seni dan publik yang ingin memiliki artefak budaya bernilai historis dan estetis.

Bagi kolektor maupun pencinta batik, karya ini bukan hanya hiasan visual, tetapi juga medium untuk merawat ingatan kolektif. Kadang, membawa pulang sebuah karya seni berarti ikut menjaga cerita dan makna yang hidup di baliknya.

(Sumber gambar: rasanyalelangkarya.com)

Author
Written by
Sefiyan Eza Nur Hidayat

Penulis di platform Rasanya Lelang Karya yang berfokus pada seni dan budaya.

Editor
Edited by
Desyfa Cahya Aina

Editor konten di platform Rasanya Lelang Karya.