Kekayaan budaya Kota Semarang kembali menemukan wujudnya dalam karya
batik berjudul Pamore Dugderan ing Semarang karya Amelia Mardati Putri,
S.Pd.. Batik berukuran 150 x 100 cm ini tidak sekadar menjadi karya kriya,
tetapi juga narasi visual tentang perjumpaan budaya Tionghoa, Arab, dan Jawa
yang hidup berdampingan dalam tradisi Dugderan.
Tradisi Dugderan, yang menjadi penanda datangnya bulan Ramadan,
dihadirkan melalui simbol warak ngendog, ikon khas Semarang yang sarat makna
persatuan. Amelia memadukannya dengan motif parang pamor, motif klasik batik
yang melambangkan kekuatan, kesinambungan, dan kewibawaan. Perpaduan ini
menghadirkan pesan yang kuat: tradisi adalah warisan yang terus bergerak, tidak
terputus oleh zaman.
Pilihan warna cerah menjadi kekuatan visual utama karya ini. Warna-warna
tersebut menggambarkan kegembiraan masyarakat dalam menyambut harapan dan
kebaikan, sekaligus menegaskan karakter Dugderan sebagai perayaan rakyat yang
inklusif. Guratan malam yang rapi dan komposisi motif yang seimbang menunjukkan
latar belakang Amelia sebagai lulusan pendidikan kriya, sekaligus pengalamannya
sebagai guru seni budaya di SMP Negeri 25 Semarang.
Karya Pamore Dugderan ing Semarang saat ini dilelang melalui rasanyalelangkarya.com dengan harga Rp6.444.000.
Lelang ini menjadi ruang temu antara karya seni dan publik yang ingin memiliki
artefak budaya bernilai historis dan estetis.
Bagi kolektor maupun pencinta batik, karya ini bukan hanya hiasan visual,
tetapi juga medium untuk merawat ingatan kolektif. Kadang, membawa pulang
sebuah karya seni berarti ikut menjaga cerita dan makna yang hidup di baliknya.
(Sumber gambar: rasanyalelangkarya.com)